Vhie

Life Travelogue

Pendar bulan tak seindah senyummu
Meski berpelangi, tiada cerah warna warni
Hangat kasihmu buatku merindu
Pada seni indah diam dalam diri

Tiada kutemukan kata paling purna
Tuk gambarkan  keanggunan jiwamu
Hanya gemuruh hasrat dalam do’a
Melantunkan paras elok batinmu

Binar mata yang membuka cakrawala
Penuh harapan akan masa depan
Ingatkanku pada aksara yang rumpang
Tentang gelar panjang arti keikhlasan           

Kata-katamu meneduhkan
Suaramu menyejukkan
Seraya bahasa alam
Mengalir dan meneguhkan

Bagai berlian dalam cawan
Kilaumu tak terelakkan
Mengerjap dalam bayangan
Nan jauh dari sentuhan

Belum pernah alam jatuhkanku secepat ini
Pada rasa yang tak pernah ku mengerti
Kegilaan yang menjadi-jadi
Tanpa bisa kupahami

Tetapi kamu tetaplah kamu
Dan aku hanya kan jadi aku
Bersahaja, tak sepertimu luar biasa
Yang hanya mampu kurengkuh dalam do’a



*written on 07 Mei 2017


Hadir dengan senyum cahaya
Menyilaukan namun menyejukkan
Hangat tiada membakar
5 menit yang mempesonakan
Menghidupkan kembali yang memudar

Nuansa yang tetiba memuda
Momentum yang bekukan semesta
Indah, namun tiada tersentuh
Kali pertama buatku cicipi kewarasan
Atau justru inilah ketidak warasan?

Diamnya beriku segala
Jiwa berjuta aksara
Menarikku pada pikiran semesta
Alam dan rutinitasnya

Merubah sudut pandang gila
Atas segenap sesat tak bermuara
Bagai seberkas sinar dalam cahaya
Membuka pintu ribuan asa

Benang ilham bagi dunia baru
Laksana awan yang kembali membiru
Kutulis lagi dan lagi anganku
Dan tak ingin hanya ku terpaku
Pada seluruh bisu, semu

Meluruh pada rasa sang Pencipta
Terselip do’a pada kidung rimanya
Padamu yang datang dengan sederhana
Padamu yang bersinar terang
Padamu 5 menit  yang menggetarkan

*Written on 01 October 2016



Terbanglah tinggi
Setinggi angkasa
Kelak bila kau terjatuh
Biarkan bintang kan menangkapmu
Membelaimu, menyembuhkan sayap patahmu

Mengudaralah tinggi
Setinggi awan yang tak kuasa menapaki bumi
Jadilah raja diraja, kekasih
Dalam keping dunia yang engkau mau
Mendekatlah pada matahari
Kelak kau kan pahami
Betapa sinarnya meredup tertimpa sinarmu

*written on 03 Februari

Menunggu akan terpaan hangat cahaya
Atas balasan yang engkau tuturkan
Mungkinkah lupa? Atau hanya terlupa?
Entah sampai kapan terkurung masa

Mungkinkah ku kan menunggu hingga batas masa
Atau hanya sekedar menunggu sampai aku lupa
Suaramu kian meraung, merobek hingga ke ulu hati
Aku terdiam, berharap cemas akan layangmu
Sayang tiada kunjung datang

Haruskah aku datang?
Dengan sejuta tanya akan yang engkau sirikan
Mungkin bukan, mungkin bintang yang lain
Meski sedalam harap aku lah bintang itu

Masih mungkinkah kau rasa?
Getar frekuensi yang pernah ada
Bintang dan bunga yang memberi tanda
Akan ke-Akuan Rasa kita pada-Nya

Adakah kau tinggal bintangmu disini?
Ataukah kau peluk dalam kebisuan
Adakah kejora lain yang kau cari?
Ataukah hanya caramu menarik kecemburuan

Menunggu, meski waktu takkan mampu
Menunggu, walau jarak membuatmu bisu
Menantimu, dibalik segala dinding rindu
Menantimu, menghampiriku tanpa jemu
Kesatriaku…


                                                             *ditulis saat mengawasi ujian 2015
Previous PostPostingan Lama Beranda